19 Lembaga yang ditetapkan sebagai pusat unggulan ilmu pengetahuan dan teknologi tahun 2017

Definisi

Pusat Unggulan Iptek adalah suatu organisasi yang sudah terbentuk setidaknya 3 (tiga) tahun terakhir, baik berdiri sendiri maupun berkolaborasi dengan organisasi lainnya (konsorsium) yang melaksanakan kegiatan-kegiatan riset bertaraf internasional pada bidang spesifik secara multi dan interdisiplin dengan standar hasil yang sangat tinggi serta relevan dengan kebutuhan pengguna Iptek.

Tujuan pelaksanaan kegiatan pengembangan Pusat Unggulan Iptek adalah untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas kelembagaan, sumber daya dan jaringan iptek dari lembaga litbang dalam bidang prioritas spesifik agar terjadi peningkatan relevansi dan produktivitas serta pendayagunaan iptek dalam sektor produksi untuk menumbuhkan perekonomian nasional yang pada gilirannya dapat berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dalam masa pembinaannya, Pusat Unggulan Iptek akan mengembangkan 3 (tiga) kapasitas kelembagaan yang mencakup kapasitas lembaga mengakses informasi (Sourcing Capacity), kapasitas riset (Research and Development Capacity), dan kapasitas diseminasi (Disseminating capacity).

Tujuan dan manfaat

Tujuan dikembangkannya Pusat Unggulan Iptek adalah untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas lembaga litbang menjadi lembaga litbang unggul bertaraf internasional dalam bidang prioritas spesifik agar terjadi peningkatan relevansi dan produktivitas serta pendayagunaan iptek dalam sektor produksi untuk menumbuhkan perekonomian nasional dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat

Manfaat yang akan diperoleh lembaga litbang kalau menjadi Pusat Unggulan Iptek di antaranya adalah:

  1. Memperoleh dana insentif operasional Pengembangan Pusat Unggulan Iptek Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi setiap tahun selama maksimum
    3 (tiga) tahun. Diharapkan lembaga litbang menyediakan dana pendampingan sebesar minimum 10% dari total dana insentif yang diperoleh
  2. Kemudahan (prioritas) mendapatkan program insentif lain yang ada di Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi
  3. Mendapatkan pembinaan secara kelembagaan dengan tujuan meningkatkan kinerja (output) lembaga litbang dari sisi akademik dan komersialisasi hasil litbang sehingga dapat berkontribusi lebih besar dalam pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat

Pembinaan

Pembinaan dilakukan bagi lembaga yang telah lolos seleksi awal. Untuk itu dilakukan pembinaan selama maksimal 3 tahun, di mana di dalamnya terdapat tahap supervisi, dan fasilitasi, sehingga lembaga memiliki kompetensi yang layak untuk ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek.

Berikut ini adalah lembaga yang telah ditetapkan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi sebagai Pusat Unggulan Iptek

  1. Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia
  2. Balai Teknologi Hidrodinamika
  3. Pusat Sains dan Teknologi Atmosfir
  4. Southeast Asian Food and Agriculture Science and Technology (SEAFAST) Centre
  5. Sistem dan Kontrol Otomotif
  6. Pusat Riset dan Enterpreunial Agroindustri Atsiri (PUREAA)
  7. Balai Penelitian Tanaman Rempah Dan Obat
  8. Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh
  9. Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
  10. Pusat Teknologi Material
  11. Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan
  12. Pusat Penelitian Metrologi
  13. Balai Penelitian Tanaman Serealia
  14. Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam
  15. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
  16. Pusat Penelitian Nanosains dan Nanoteknologi
  17. Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh
  18. Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju
  19. Pusat Penelitian Biologi

Untuk keterangan detail mengenai masing-masing lembaga bisa dibaca pada deskripsi berikut ini:

Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia

Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, disingkat P3GI, adalah lembaga penelitian pergulaan di Indonesia. Lembaga penelitian yang berpusat di PasuruanJawa Timur, ini bertugas melaksanakan penelitian, menghasilkan mengkaji teknologi dan produk pergulaan dan pemanis bagi kemajuan masyarakat gula, khususnya petani tebu dan pabrik gula, dan memberikan bantuan teknis kepada klien.

Lembaga penelitian ini termasuk salah satu lembaga penelitian pertanian/perkebunan tertua di Indonesia dan pernah berperan besar dalam perkembangan pergulaan dunia di paruh awal abad ke-20. Ia pertama kali berdiri pada tanggal 9 Juli 1887 sebagai Proefstation Oostjava (POJ) dan merupakan lembaga penelitian tebu/gula ketiga yang didirikan di Jawa, setelah yang pertama di Semarang dan kedua di Kagok, MajalengkaJawa Barat. Pendiriannya kala itu membawa misi penelitian pemuliaan tebu untuk ketahanan terhadap penyakit sereh dan penanggulangan pengaruh perkembangan industri bit gula di Eropa[1].

Pada tahun 1921 berhasil dirilis kultivar klon tebu (Saccharum officinalePOJ 2878 yang secara dramatis menyelamatkan banyak industri gula dunia yang nyaris rontok akibat serangan penyakit sereh yang merajalela. Perakitan POJ 2878 dilakukan dengan seleksi silsilah dengan salah satu tetua adalah gelagah (Saccharum spontaneum) sebagai tetua sumber ketahanan. Persilangan ini menjadi salah satu dari sedikit keberhasilan persilangan antarspesies yang berhasil pada masa itu. POJ pada tahun 1930 juga merilis POJ 3016 yang memiliki daya hasil gula yang tinggi.

Balai Penyelidikan Perusahaan Perusahaan Gula (BP3G)

Setelah kemerdekaan RI, POJ dinasionalisasi pada tahun 1957 menjadi Balai Penyelidikan Perusahaan Perusahaan Gula (BP3G). Statusnya dikembalikan ke keadaan sebelum perang, yaitu sebagai lembaga penelitian yang diurus dan dibiayai oleh kalangan perindustrian gula sendiri. Pengelolaannya dikendalikan oleh suatu Dewan Pembina. Pada tahun 1987 BP3G diganti namanya menjadi yang berlaku sekarang (P3GI).

Pada tahun 1992 Didirikan Asosiasi Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (AP2GI) untuk menunjang kegiatan penelitian yang dilakukan oleh P3GI

1996 Dibentuk Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia (APPI) yang merupakan integrasi dari Asosiasi Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Indonesia (AP3I) dan Asosiasi Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (AP2GI)

2002 APPI membentuk LRPI sebagai pengolah Pusat Penelitian

2009 Lingkup PT RPN (Riset Perkebunan Nusantara)

2013 Memperoleh sertifikat ISONEC 17025-2008 dari KAN

2014 Perubahan Logo Lembaga

2015 Memperoleh Tanda Regristasi Usaha Perbenihan (TRUP)

2016 Terakreditasinya Laboratorium Kalibrasi

Balai Teknologi Hidrodinamika

Balai Teknologi Hidrodinamika (BTH) adalah salah satu unit kerja di BPPT yang pada awal mula berdirinya bernama Balai Pengkajian dan Penelitian Hidrodinamika (BPPH) yang diresikam oleh Presiden Soeharto pada tgl 20 Juli 1995.  BTH sebagai fasilitas rekayasa teknologi bidang perkapalan dan bangunan apung lainnya dilengkapi dengan fasilitas modern berskala industri dan terbesar di Asia Tenggara antara lain Towing Tank (TT), Monoevering Ocean Engineering Basin (MOB) dan Cavitation Tunnel (CT) serta fasilitas pendukung lainnya yaitu Bengkel Model Kapal, Bengkel Mesin, Bengkel Model Propeller dan Drawing Office. Dalam menjalankan fungsinya, BTH mempunyai tugas melaksanakan pelayanan jasa pengujian bidang hidrodinamika untuk kapal dan bangunan apung lainnya.

Dalam rangka mendukung program poros Maritim dan tol laut Kabinet Kerja, BTH sebagai bagian dari Pusat Teknologi Rekayasa Industri Maritim (PTRIM) BPPT yang mempunyai  SDM sebanyak 91 orang, saat ini menjadi pilar utama dalamprogram nasional Pengembangan Kapal-kapal Niaga dan Kapal Perang (KCR & Kapal Selam).

Pusat Sains dan Teknologi Atmosfir

Berdasarkan Peraturan Kepala LAPAN Nomor 8 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja LAPAN, Pasal 73, PSTA mempunyai tugas melaksanakan penelitian, pengembangan, perekayasaan, dan pemanfaatan serta penyelenggaraan keantariksaan di bidang sains dan teknologi atmosfer.

Kompetensi Inti Organisasi adalah

i.    Litbang sains atmosfer dan iklim Benua Maritim Indonesia

ii.   Litbang teknologi pengamatan atmosfer berbasis satelit dan terrestrial

iii.  Layanan informasi hasil penelitian kepada publik dan pengguna.

iv.  Basis Data Atmosfer Indonesia

Komoditas Unggulan Lembaga adalah:

1.  Sistem Peringatan Dini Bencana Berbasis Satelit / Satellite Disaster Early Warning System (Sadewa)

2.  Sistem Pendukung Keputusan / Decission Support System (DSS) Bidang Maritim (SEMAR) dan Lingkungan (SRIKANDI)

Perubahan Iklim (SRIRAMA), Sistem Pemantauan Hujan (SANTANU)

3.  Teknologi Pengamatan Atmosfer dengan Roket Sonda

4.  Data Atmosfer Berbasis Satelit

Southeast Asian Food and Agriculture Science and Technology (SEAFAST) Centre

Pada tanggal 23-25 Juli 2018 SEAFAST Center LPPM IPB mengadakan pelatihan mengenai cara melakukan systematic literature review dan meta-analysis dengan menghadirkan ilmuwan ahli sebagai narasumber, Dr. Dominika Średnicka-Tober dari Warsaw University dan juga Dr. Nancy D. Yuliana dan Dr. Puspo Edi Giriwono. Pelatihan yang diikuti oleh dosen, staf, peneliti maupun mahasiswa ini diadakan di ruang Salak, SEAFAST Center, Kampus IPB Darmaga, Bogor selama tiga hari. Kemampuan untuk melakukan systematic literature review dan meta-analysis merupakan skill yang penting bagi mahasiswa maupun peneliti karena selain membekali peneliti dengan potensi bidang yang masih dapat dieksplorasi berdasarkan hasil yang telah diteliti oleh peneliti sebelumnya seperti tradisional review, systematic literature review memungkinkan kita untuk lebih meningkatkan kualitas dan kedalaman dari paper yang dihasilkan. Hal ini juga dijelaskan oleh Dr. Nancy dan Dr. Dominika.

Sistem dan Kontrol Otomotif

DI ITS, terdapat PUI Sistem Kontrol Otomotif yang menjadi rumah bagi pengembangan teknologi otomotif terbaru. PUI-SKO telah mengembangkan Gesits (Garansindo Elecric Scooter ITS) merupakan sepeda motor jenis skuter matic pertama di  Indonesia yang akan diproduksi secara massal tahun 2018 mendatang. Proyek Gesits merupakan kerjasama antara PT Garasindo dan ITS. Gesits diprediksi akan menguasai pasar sepeda motor listrik di Indonesia, bahkan di Asia tenggara (ASEAN).

Selain Gesits, juga PUI SKO juga telah mengembangkan mobil listrik nasional (molina) sebelumnya. Produk molina ITS telah menyabet berbagai prestasi baik dalam skala nasional maupun internasional.

Pusat Riset dan Enterpreunial Agroindustri Atsiri (PUREAA)

PUREAA atau Pusat Riset dan Entrepreneurial Agroindustri Atsiri menjadi salah satu pusat kajian Universitas Brawijaya (UB) yang telah mandiri. Berkembang di desa Kesamben, Kabupaten Blitar sejak tahun 2012, PUREAA bukan hanya berkontribusi bagi dunia ilmu pengetahuan tapi juga masyarakat sekitar dengan membuat diversifikasi produk.

PUREAA di awal pendiriannya mengembangkan lilin aromaterapi dan pengharum ruangan. Saat ini, dikembangkan beberapa produk seperti pelembut pakaian, pembersih lantai, sugar scrub, minyak angin dan minyak aromaterapi.

Balai Penelitian Tanaman Rempah Dan Obat(BALITTRO)

 VISInya Menjadi Balai Berkelas Dunia Dalam Penelitian Dan Diseminasi Inovasi Tanaman Rempah dan Obat. Dalam melaksanakan tugasnya instansi ini dipimpin oleh seorang Kepala Balai dan dibantu oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi Pelayanan Teknis, dan Kepala Seksi Jasa Penelitian. Di samping Ketiga penjabat eselon IVa tersebut, dalam melaksanakan tugas sehari-hari Kepala Balai dibantu oleh seorang Koordinator Program yang mengkoordinir program komoditas Tanaman Rempah, Obat dan Atsiri, Ketua Kelompok Peneliti (Kelti) yaitu : 1) Kelti Pemuliaan Tanaman, 2) Kelti Proteksi Tanaman, dan 3) Kelti Ekofisiologi Tanaman. 
BALITTRO telah mendapatkan Sertifikat Akreditasi KAN, Laboratorium Pengujian Mutu Balittro, Sertifikat Akreditasi Buletin Balittro, Sertifikat WBK, dan Pusat Unggulan Iptek (PUI).
Produk yang dihasilkan antara lain:
(1) Benih varietas tanaman rempah, obat dan atsiri yaitu : Varietas Lada (9 varietas), Pala (5 varietas), Cengkeh (4 varietas), Temulawak (3 varieas), Nilam (5 varietas), Serai Wangi (3 varietas), Pegagan (2 varietas), Sambiloto (1 varietas), Purwoceng (1 varietas), Kumis Kucing (1 varietas), Lempuyang (2 varietas), Jambu Mete (9 varietas), Serai Dapur (1 varietas), Kunyit (4 varietas), Kencur (3 varietas), Jahe Putih Besar (1 varietas), Jahe Merah (2 varietas), Jahe Putih Kecil (4 varietas), Akar Wangi (2 varietas), dan Mentha (1 varietas).
(2) Koleksi Plasma nutfah tanaman rempah, obat dan atsiri
(3) Minuman Kesehatan berbahan baku tanaman obat (instan jahe, kencur, kunyit dan temulawak, anggur jahe, sirup temulawak dan mentah)
(4) Pestisida nabati
(5) Jamu ternak
(6) Bioaditif BBM

Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh

Tugas Pokok lembaga ini adalah melaksanakan penelitian, pengembangan, dan perekayasaan, serta penyelenggaraan keantariksaan dibidang pemanfaatan penginderaan jauh. Adapun fungsi adalah sebagai berikut :

a. penyusunan rencana, program, kegiatan, dan anggaran di bidang pemanfaatan penginderaan jauh;
b. penyiapan bahan rumusan kebijakan teknis di bidang pemanfaatan penginderaan jauh;
c. penelitian, pengembangan, dan perekayasaan dibidang pemanfaatan penginderaan jauh;
d. pengelolaan fasilitas penelitian, pengembangan, perekayasaan, dan pemanfaatan di bidang pemanfaatan penginderaan jauh;
e. pelaksanaan kegiatan diseminasi hasil penelitian, pengembangan, dan perekayasaan di bidang pemanfaatan penginderaan jauh;
f. pengolahan data dengan klasifikasi dan deteksi parameter geo-bio-fisik;
g. penyiapan bahan penetapan metode dan kualitas pengolahan data;
h. penyiapan bahan penyusunan pedoman Pemanfaatan data dan diseminasi informasi;
i. pengelolaan dan pengembangan Sistem Pemantauan Bumi Nasional;
j. pembinaan dan pemberian bimbingan teknis di bidang penelitian,
pengembangan, dan perekayasaan pemanfaatan penginderaan jauh;
k. pelaksanaan kerjasama teknis di bidang Pemanfaatan penginderaan jauh; dan
l. pelaksanaan administrasi keuangan, penata usahaan Barang Milik Negara, pengelolaan rumahtangga, sumber daya manusia aparatur, dan tata usaha pusat.

Majalah Ilmiah

Majalah Imiah yang diterbitkan (judul dan periode penerbitan) : Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh terlibat dalam penerbitan Jurnal
Ilmiah:
1. Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital.
Sejak tahun 2012 jurnal ini telah Terakreditasi dengan nomor No.429/Akred-LIPI/P2MI-LIPI/04/2012 dan terbit dua kali dalam setahun
(Juni dan Desember) .
2. International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences.
Sejak tahun 2011 jurnal ini telah Terakreditasi dengan nomor No.371/AU1/P2MBI/07/2011 dan terbit dua kali dalam setahun (Juni dan
Desember).

Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika

Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) terletak di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Batu, Jawa Timur. Posisi Balitjestro berada pada 4 km dari Kota Batu dan pada ketinggian tempat ± 950 m di atas permukaan laut. Berdasarkan Surat Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 13/Permentan/OT.140/3/2006 Loka Penelitian Jeruk dan Hortikultura Subtropik yang mengalami peningkatan eselonisasi dari Eselon IV ke Eselon III dengan nama Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro). Balitjestro adalah salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) penelitian dan pengembangan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura.

Pusat Teknologi Material

Badan Pengkajian dan Perapan Teknologi berdiri berdasarkan keputusan Presiden No.31 Tahun 1982 yang dibagi menjadi enam kedeputian, dimana salah satu diantaranya adalah Deputi Pengembangan Teknologi yang terdiri dari empat direktorat yaitu Lingkungan dan pemukiman hidup proses industry, Konversi dan konservasi energy, elektronika dan informatika dan direktorat sarana fasilitas dan Laboratorium.

Kemudian terjadi perubahan organisasi di lingkungan BPP Teknologi, berdasarkan keputusan Presiden Nomer 47 Tahun 1991. Di bawah kedeputian Pengembangan Teknologi terdapat perubahan direktorat menjadi Direktorat Teknologi Energi, Direktorat Teknologi Elektronika dan Informatika serta Direktorat Teknologi Manufakturing dan Sertifikasi.

Pada tahun 1998, Direktorat Teknologi Manufakturing dan Sertifikasi berubah menjadi Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi material (P3TM). P3TM inilah yang menjadi cikal bakal Pusat Teknologi Material (PTM) dan ditetapkan menjadi PTM sejak tahun 2006.

Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan

Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP) merupakan lembaga riset di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan yang memiliki mandat untuk melakukan riset pada bidang pembenihan dan pembesaran komoditas budidaya laut, termasuk ikan laut, krustasea dan kekerangan.

Beberapa teknologi hasil penelitian yang telah dapat diaplikasikan oleh masyarakat adalah:

1. Teknologi pembenihan dan pembesaran: Bandeng, Kerapu tikus/bebek, kerapu macan, kerapu batik, abalon, teripang pasir dan udang windu.

2. Teknologi pembenihan: Kakap merah, cobia, ikan hias, ikan tuna, kerapu sunu, rajungan, dan kepiting bakau.

BBRBLPP juga telah melakukan diseminasi teknologi hasil penelitian ke masyarakat, antara lain: Diseminasi ikan bandeng di Jawa Timur, Bali, dan Jawa Barat, Diseminasi abalon di Lombok Timur dan Jawa Barat, diseminasi ikan kerapu di Belitung Timur, di Halmahera Utara, dan Kalimantan Timur

Pusat Penelitian Metrologi

Pusat Penelitian Metrologi (Puslit Metrologi) adalah salah satu pusat di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, yang didirikan pada tanggal 1 Juni 1967 di Bandung dengan nama Lembaga Instrumentasi Nasional (LIN-LIPI).

Sejalan dengan pertumbuhan infrastruktur IPTEK nasional, sejak tahun 1984 LIN-LIPI  mendapat kesempatan untuk pindah dan memanfaatkan sarana dan fasilitas penelitian ilmu pengetahuan dan teknologi di kawasan PUSPIPTEK Serpong, Pada tahun 1989 LIN-LIPI  berubah namanya menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi (PUSLITBANG KIM-LIPI).

Berdasarkan Keputusan Presiden nomor 43 tahun 2001 , maka PUSLITBANG KIM-LIPI berubah menjadi Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi (PUSLIT KIM-LIPI).

Balai Penelitian Tanaman Serealia

Balai Penelitian Tanaman Serealia merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis di Bawah Badan Litbang Pertanian yang mempunyai tugas melaksanakan penelitian tanaman serealia (jagung, sorgum, gandum dan sereal potensial lainnya. Struktur organisasi Balai Penelitian Tanaman Serealia (Indonesian Cereals Research Institute) ditetapkan sesuai dengan SK Mentan Nomor.80/Kpts/ OT.210/1/2002 .Sebelum berganti nama menjadi Balai Penelitian Tanaman Serealia, dulunya balai ini dikenal dengan nama Balai Penelitian Tanaman Pangan Maros (Maros Research Institute for Food Crops ) tahun 1981- 1995 dan Balai Penelitian Tanaman Jagung dan Serealia Lain (Balitjas ) tahun 1995-2002. Pada Tahun 2004 Balai Penelitian Tanaman Jagung dan Serealia Lain berganti nama menjadi Balai Penelitian Tanaman Serealia. Adapun fokus penelitian Balai Penelitian Tanaman Serealia adalah komoditas serealia non padi, seperti jagung, gandum, sorgum, millet.

Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam

Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia – Yogyakarta, disingkat BPTBA LIPI Yogyakarta, sebelumnya bernama UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK) merupakan satuan kerja setingkat eselon III pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di bawah Kedeputian bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) LIPI. Perubahan nama ini bagian dari reorganisasi yang bertujuanuntuk memperluas tugas pokok dan fungsi di bidang penelitian sehingga cakupan kegiatan menjadi lebih komprehensif, tidak hanya terbatas pada pengembangan (developing) tapi juga menyasar pada penelitian dasar (basic research). Reorganisasi dari BPPTK menjadi BPTBA efektif berlaku sejak 25 Februari 2016 sesuai Peraturan Kepala LIPI nomor 6 tahun 2016 tanggal 25 Februari 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam. BPTBA LIPI berlokasi di Jl Jogja – Wonosari KM 31,5 Desa Gading, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, D.I.Yogyakarta.

Sejarah berdirinya BPTBA LIPI Yogyakarta diawali pada 26 Juni 1983 dengan dibentuknya Stasiun Percontohan dan Pengembangan Teknologi Pembuatan Bahan Makanan Campuran Ternak untuk sapi (SPPT – BMCT), Lembaga Kimia Nasional (LKN) – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Gading, Playen, Gunungkidul, D.I.Yogyakarta. Pembentukan SPPT-BMCT bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak terutama ruminansia di Gunungkidul dan sekitarnya. Kegiatan unggulan pada stasiun percontohan ini adalah penelitian Bahan Makanan Campuran Ternak untuk sapi. Satu unit SPPT LIPI juga berada di Gunungsempu, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, D.I.Yogyakarta yang fokus pada pengolahan dan pelatihan Tahu Tempe sehingga disebut sebagai SPPT Tahu Tempe yang dibentuk berdasarkan hasil kerjasama Koperasi Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) dan LKN LIPI.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Pada tahun 2011, Pustekolah sudah menginiasiasi kegiatan pendahuluan pengembangan hasil penelitian, yaitu identifikasi potensi penggunaan cuka kayu untuk berbagai penggunaan dan pengujian laboratorium terhadap komponen-komponen kimia penyusun cuka kayu. Hasil ini merupakan bahan untuk kegiatan pengembangan produk cuka kayu lebih lanjut.

Saat ini, Pustekolah telah banyak menghasilkan teknologi, informasi maupun formula yang potensial untuk dikembangkan. Namun mempertimbangkan sumberdaya yang ada dan kebutuhan masyarakat, perlu dilakukan prioritasi kegiatan pengembangan yang akan dilakukan pada tahun 2011-2014.

Pusat Penelitian Nanosains dan Nanoteknologi

Nanotechnology atau Teknologinano saat ini masih belum berkembang di Indonesia. Bahkan masyarakat pun masih merasa asing dengan teknologi ini. Padahal, teknologi nano sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan berkontribusi dalam memajukan bangsa.

Untuk itu, pengenalan teknologi nano sejak dini kepada generasi muda pun harus dilakukan, agar masyarakat semakin mengenal teknologi ini.

Teknologi nano adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengontrol zat, material dan sistem pada skala nanometer, sehingga menghasilkan fungsi baru yang belum pernah ada. Ukuran 1 nanometer adalah 1 per satu miliar meter yang berarti 50.000 kali lebih kecil dari ukuran rambut manusia.

Dengan teknologi ini kita dapat membuat zat menjadi ukuran yangsangat kecil, dan karena itu pula maka sifat dan fungsi zat tersebut bisa diubah sesuai dengan yang kita inginkan. Di Indonesia, teknologi nano masih terasa asing.

Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh

Tugas utama Pusat Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh adalah menyelenggarakan penelitian dan pengembangan untuk pemanfaatan data penginderaan jauh, pembuatan pedoman pengolahan data dan diseminasi informasi (Undang-Undang No. 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan).

AlamatJalan Lapan No.70, RT.7/RW.9, Pekayon, Pasar Rebo, RT.7/RW.9, Pekayon, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13710.

Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju

Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju (PSTBM) berdasarkan PERKA BATAN No. 14 Tahun 2013 tanggal 27 Desember 2013, merupakan unit kerja dibawah Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir (SATN) yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pengendalian kebijakan teknis, pelaksanaan, dan pembinaan dan bimbingan di bidang penelitian dan pengembangan bahan maju berbasis teknologi nuklir, sains bahan industri nuklir, dan teknologi neutron.

Undang-undang No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran mengamanatkan bahwa perkembangan dan pemanfaatan tenaga nuklir dalam berbagai bidang kehidupan manusia di dunia sudah demikian maju sehingga pemanfaatan dan pengembangannya bagi pembangunan nasional yang berkesinambungan dan berwawasan lingkungan perlu ditingkatkan dan diperluas untuk mempercepat kesejahteraan dan daya saing bangsa.

Pusat Penelitian Biologi

Pusat Penelitian Biologi merupakan salah satu Pusat Penelitian di bawah koordinasi Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), selain Pusat Penelitian Bioteknologi dan Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor.

Pusat Penelitian Biologi membawahi satu Bagian Tata usaha dan empat Bidang yaitu Bidang Botani (Herbarium Bogoriense, Treub dsb.), Zoologi (Museum Zoologicum Bogoriense), Mikrobiologi dan Bidang Sarana dan Pengelolaan Koleksi.

Pusat Penelitian Biologi semula dikenal dengan nama Lembaga Biologi Nasional (LBN). LBN yang dibentuk pada tahun 1962, pada awalnya adalah bagian dari Lembaga Pusat Penyelidikan Alam (LPPA) yang berada di bawah naungan Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI). Seiring dengan perubahan waktu dan kondisi di Indonesia, MIPI berubah menjadi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), kemudian pada tahun 1986, Lembaga Biologi Nasional berubah menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi, dan sejak tahun 2000 diubah menjadi Pusat Penelitian Biologi.

Pusat Penelitian Biologi mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, pemberian bimbingan teknis, penyusunan rencana dan program, pelaksanaan penelitian bidang biologi, serta evaluasi dan penyusunan laporan.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: