9 Tahap Tingkat Kesiapan Teknologi

Berdasarkan Peraturan Menteri Ristekdiki No 42 tahun 2016 tentang pengukuran dan penetapan tingkat kesiapterapan teknologi, maka setiap hasil kegiatan riset dan pengembangan teknologi harus diukur. Tingkat kondisi kesiapterapan suatu hasil penelitian dan pengembangan teknologi tertentu diukur secara sistematis dengan tujuan untuk dapat diadopsi oleh pengguna, baik oleh pemerintah, industri atau masyarakat. Alat ukur digunakan untuk mengukur kesiapan teknologi yaitu tingkat kesiapterapan teknologi (TKT).

TKT menunjukan tahapan kesiapan teknologi. TKT dibagi dalam skala 1 sampai dengan 9. Skala 1 menunjukan prinsip dasar dari teknologi diteliti dan dilaporkan. Skala 2 menunjukan formulasi konsep dan/atau aplikasi formulasi. Skala 3 menunjukan pembuktian konsep fungsi dan/atau karakteristik penting secara analitis dan eksperimental. Skala 4 menunjukan validasi komponen/subsistem dalam lingkungan laboratorium. Skala 5 menunjukan validasi komponen/subsistem dalam suatu lingkungan yang relevan. Skala 6 menunjukan demonstrasi model atau prototipe sistem/subsistem dalam suatu lingkungan yang relevan. Skala 7 menunjukan demonstrasi prototipe sistem dalam lingkungan sebenarnya. Skala 8 menunjukan sistem telah lengkap dan handal melalui pengujian dan demonstrasi dalam lingkungan sebenarnya. Skala 9 menunjukan sistem benar-benar teruji/terbukti melalui keberhasilan pengoperasian.

Kesembilan tingkatan TKT dengan masing-masing memiliki indikator masing-masing. Indikator dapat dilihat di halaman Ditjen Risbang Kemenristekdikti. Kategori indikator TKT meliputi umum dan hard engineering; kesehatan-vaksin/hayati; kesehatan-peralatan medis; farmasi; pertanian, peternakan, dan perikanan; TIK-software; sosial humaniora dan pendidikan; dan seni.

Pengukuran tingkat kesiapan teknologi dilakukan dengan menggunakan Tekno-Meter. Tekno-Meter adalah sebuah perangkat lunak (software) berbasis spreadsheet dari Microsoft Excel yang menghimpun beberapa pertanyaan standar untuk setiap tingkatan dan menampilkan TKT yang dicapai   secara   grafis. Perangkat  lunak  ini cukup membantu dalam proses pengukuran TKT (yang dapat dilakukan berulang). Tekno-Meter dapat memberikan gambaran sesaat (snap shot) tentang status kematangan teknologi pada waktu tertentu.   Di samping itu juga dapat untuk mengevaluasi proses historis pencapaian kesiapan/kematangan teknologi dari program pengembangan yang dilakukan dalam suatu teknologi.

Pengukuran tingkat kesiapan teknologi dapat dilakukan secara mandiri (self assessment) dimaksudkan untuk memetakan kapasitas dan kapabilitas teknologi. Upaya ini dirintis pertama kali oleh William Nolte beserta timnya di AFRL Amerika Serikat (Air Force Research Laboratory)  pada  tahun  2005,  mengembangkan “kalkulator” penghitung yang disebut TRL Calculator. Alat ini merupakan peranti lunak untuk menerapkan konsep tingkat  kesiapan  teknologi  yang  dikembangkan  NASA dalam program-program pembangunan teknologinya. Pada TRL Calculator ini terdapat sejumlah pertanyaan standar untuk setiap tingkatan. Tetapi perlu diingat bahwa pada penggunaan untuk teknologi tertentu, diperlukan customization terhadap kumpulan pertanyaan standar pada setiap tingkat, sehingga sesuai dan relevan dengan teknologi tersebut.

Pengukuran TRL di Indonesia

TRL Calculator juga memungkinkan pengukuran ketiga “jenis” teknologi, baik berupa perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan keduanya. Metode pengukuran  tingkat  kesiapan  teknologi  dengan TRL Calculator mencoba mengukur kesiapan teknologi dalam “multi dimensi” (walaupun diakui tetap masih mengabaikan banyak dimensi penting lain menyangkut kematangan teknologi). Alat ini kemudian dikembangkan dan sejauh mungkin disesuaikan dengan kondisi Indonesia kemudian dimodifikasi menjadi Tekno-Meter.

Diawali pada tahun 2005, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui kegiatan Pengkajian Sistem Difusi dan Pemanfaatan Teknologi telah melakukan Kajian Pengukuran Tingkat Kesiapan Teknologi dan telah dihasilkan “Panduan Pengukuran Tingkat Kesiapan Teknologi”. Panduan masih menggunakan alat ukur TRL Calculator.  Hasil  kajian  ini  menunjukkan  bahwa pengukuran tingkat kesiapan teknologi berpeluang besar sebagai dasar pengambilan keputusan untuk pengembangan riset. Setahun  kemudian  bekerjasama  dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, dilakukan kegiatan kajian bersama untuk menyusun Panduan Pengukuran Tingkat Kesiapan  Teknologi  dan  telah  dihasilkan  “TRL  Meter BPPT-Ristek v-1.0.xls”  beserta perangkat lunak (software) worksheet Microsoft Excel.

Tekno-Meter digunakan membantu KRT untuk mengevaluasi keberhasilan program Riset Unggulan Kemitraan (RUK). Hasil pengukurannya sesuai dengan hasil evaluasi yang dilakukan oleh KRT . Selanjutnya pada tahun berikutnya Tekno-Meter digunakan untuk mengukur tingkat kesiapan teknologi hasil kegiatan BPPT guna menyusun Direktori Teknologi yang salah satu unsurnya menggambarkan peta tingkat kesiapan teknologi. Informasi mengenai tingkat kesiapan teknologi dapat dimanfaatkan untuk menjaring kemitraan dalam rangka pemasaran hasil riset BPPT. Pada tahun 2010, Tekno Meter digunakan untuk mengukur tingkat kesiapan teknologi 54 hasil riset BPPT dalam 11 bidang teknologi.  

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa 50 % hasil riset BPPT telah berada pada level di atas 6. Kesimpulan ini membantu pengelola program riset untuk mengambil keputusan langkah berikut, apakah berupa kolaborasi untuk melanjutkan riset atau masuk ke komersialisasi. Pada tahun 2011, Tekno-Meter digunakan untuk mengukur tingkat kesiapan teknologi beberapa hasil riset Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) dibawah koordinasi KRT. Pada kegiatan ini juga telah dilakukan penyempurnaan  TRL-Meter  versi  1.0  dan  penyusunan buku Panduan Pengukuran Tingkat Kesiapan Teknologi

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: