Gambaran Umum Pengembangan Teknologi Industri di Indonesia

Hasil gambar untuk technology development
sumber: anthrotronix.com

Pendahuluan

Peningkatan daya saing sektor industri manufaktur menjadi hal yang sangat penting karena bisa memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Namun berdasarkan laporan tahunan World Economic Forum dalam Global Competitiveness Index (Indeks Daya saing Global) dalam satu dekade terakhir daya saing Indonesia berfluktuatif dalam kisaran 35-45. Periode 2015-2016 di posisi ranking 37, periode 2016-2017 turun ke posisi 41, dan 2017-2018 kembali naik ke posisi 36.

Meskipun demikian nilai mutlak indeks daya saing hampir tidak ada peningkatan yang signifikan, bertahan kisaran nilai 4.52. Demikian pula dengan technological readiness level bergerak dari ranking 85 (nilai 3.5) pada periode 2015-2016, ranking 91 (nilai 3.54) pada periode 2016-2017, dan pada periode 2017-2018 ranking 80. Peringkat tersebut masih jauh dari ideal untuk negara dengan potensi pertumbuhan yang besar seperti Indonesia. Kondisi yang kurang memuaskan juga terjadi pada indek inovasi yang. Dari data di bertahan di kisaran ranking 30-31. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan inovasi belum sepenuhnya diiringi dengan pendayagunaan hasil-hasil litbang secara optimal. Utamanya pendayagunaan pada sektor industri yang merupakan motor penggerak ekonomi utama.

Kondisi Industri Manufaktur

Di lain pihak sektor industri khususnya industri manufaktur telah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Oleh karena itu peningkatan daya saing sektor industri khususnya industri manufaktur menjadi hal yang sangat penting. Kinerja industri manufaktur sepanjang 2015 mencapai Rp 2.097,71 triliun atau berkontribusi 18,1% terhadap PDB nasional. Pencapaian ini dengan sokongan terbesar dari sektor makanan dan minuman, barang logam, alat angkutan serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional.  Jika dibandingkan dengan tahun 2014 telah mengalami peningkatan yakni senilai Rp 1.884 triliun atau memberikan kontribusi 17,8%. Data dari Indikator Iptek LIPI (2011) pada kurun waktu 1990 sampai dengan 2009 sektor industri manufaktur di Indonesia memberikan peningkatan kontribusi pada PDB dari 20.33% menjadi 26.38%.

Berdasarkan data hasil survey BPS tahun 2010 sd 2014 diketahui bahwa prosentase industri olahan dibandingkan lapangan usaha lain mengalami penurunan dari 22.6% tahun 2010 menjadi 21.5% tahun 2014. Sekalipun total nilainya meningkat fakta ini menunjukkan bahwa daya saing industri manufaktur di tingkat global cenderung mengalami penurunan. Penurunan daya saing diakibatkan oleh masih lemahnya pengembangan teknologi di sektor industri.

Berdasar struktur impor Indonesia  (data BPS dan Kemenperin pada Agustus 2012) menunjukkan porsi impor bahan baku, komponen, dan bahan penolong industri terhadap total impor (non migas). Itu sama dengan 73 %  jauh melampaui impor barang modal yakni 20 %. Barang konsumsi (jadi)  yang hanya 7 % dari total impor Indonesia. Dimana. ekspor non migas Indonesia didominasi komoditas sumber daya alam dengan nilai tambah ekonomi kecil: Batubara, CPO,  Karet Alam, dan lain lain.  Bahkan sebagian dari ekspor di atas diolah oleh pengimpor lalu diekspor balik ke Indonesia dalam bentuk bahan baku industri (dengan nilai yang lebih tinggi).

Peran Teknologi

Seiring dengan fakta-fakta tersebut dan adanya dinamika perubahan yang semakin cepat dan kompleks. upaya peningkatan daya saing akan semakin bertumpu pada kemampuan berinovasi dalam menciptakan dan meningkatkan nilai tambah industri melalui optimalisasi pemanfaatan teknologi. Penggunaan teknologi sangat penting dalam mendorong daya saing industri. Sebagaimana diperlihatkan oleh hasil survei Kementerian Riset dan Teknologi-BPPT (2011) terhadap industri manufaktur (Gambar 1). 61% responden menyatakan teknologi sangat penting bagi industri untuk meningkatkan daya saingnya dan 32 % responden menyebutkan teknologi penting untuk meningkatkan daya saing industri.

Gambar: Urgensi Peran Teknologi dalam  Industri Manufaktur

Namun kesadaran akan pentingnya teknologi untuk meningkatkan daya saing industri belum dibarengi dengan upaya penguasaan dan pengembangan teknologi oleh industri di Indonesia. Hal ini dibuktikan oleh data hasil survei Kementerian Riset dan Teknologi-BPPT (2011) terhadap industri manufaktur yang menyatakan bahwa 58% teknologi di industri diperoleh dari luar negeri dan hanya sekitar 31% yang menyatakan diperoleh dari dalam negeri. Jepang. Cina. Jerman dan Taiwan menjadi negara yang paling besar teknologinya digunakan oleh industri di dalam negeri.

Teknologi pada industri manufaktur

Di sisi lain. peningkatan daya saing sektor industri manufaktur menjadi sangat penting karena sektor industri manufaktur memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Berdasarkan data dari Indikator Iptek LIPI (2011) pada kurun waktu 1990 sampai dengan 2009 sektor industri manufaktur di Indonesia memberikan peningkatan kontribusi pada PDB dari 20.33% menjadi 26.38%.

Oleh karena itu industri dituntut untuk mengembangkan teknologi dan infrastruktur teknologi. meliputi pengembangan bahan baku. pengembangan desain produk. pengembangan teknologi produk dan teknologi proses produksi sebagai upaya meningkatkan daya saing industri tsb. Iklim persaingan yang semakin ketat mengharuskan pelaku industri memikirkan bagaimana produknya dapat dibedakan. tidak hanya dari segi harga tetapi juga pada nilai tambah produk yang dapat diberikan kepada konsumen. Untuk itu diperlukan upaya secara berkelanjutan dalam melakukan inovasi teknologi. dalam rangka meningkatkan kemampuan teknologi untuk menghasilkan produk yang lebih bernilai.

Instrumen Kebijakan Riset dan Iptek

Pemerintah dalam hal ini telah melakukan fasilitasi melalui instrumen kebijakan langsung dalam mendorong industri untuk melakukan kegiatan pengembangan produk. Salah satunya dalam bentuk kebijakan dukungan program dan pendanaan. berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. yang dituangkan dalam Pasal 21 Ayat (3) yang menyatakan bahwa instrumen kebijakan dapat berupa dukungan sumber daya. dukungan dana. pemberian insentif. penyelenggaraan program ilmu pengetahuan dan teknologi. dan pembentukan lembaga. Selain itu Pemerintah perlu memperhatikan pentingnya upaya penguatan industri berbasis teknologi. melalui peningkatan kemampuan perekayasaan. inovasi. dan difusi teknologi serta memperkuat tarikan pasar bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan. Pemerintah juga memperhatikan pentingnya upaya penguatan kemampuan audit teknologi impor yang dikaitkan dengan penguatan Standarisasi Nasional Indonesia untuk melindungi konsumen dan memfasilitasi pertumbuhan industri dalam negeri.

Namun demikian hasil Litbang teknologi industri masih belum banyak dimanfaatkan. Masih sedikit output Litbang yang dimanfaatkan oleh industri dan menjadi outcome. Hal ini terlihat dari hasil survei inovasi di sektor industri manufaktur di Indonesia yang dilakukan oleh LIPI pada tahun 2011. dimana sebagian besar (61%) industri manufaktur telah melakukan inovasi. tetapi didominasi inovasi di bidang pemasaran. yaitu pengenalan produk (85.79%) dan purna jual (78.07%). Sedangkan untuk kegiatan inovasi intramural lebih banyak dilakukan di industri dengan intensitas teknologi tinggi. Sementara industri manufaktur di Indonesia masih didominasi oleh industri dengan intensitas teknologi rendah (79%).

Kesimpulan

Oleh karena itu untuk menjawab permasalahan hasil litbang di industri tersebut perlunya adanya dukungan agar industri.  Dengan melakukan kegiatan penelitian & pengembangan teknologi maka produktivitas Litbang Iptek di Industri akan semakin meningkat. Dengan meningkatnya produktivitas riset di Industri tentu akan mendorong peningkatan daya saing industri itu sendiri. Pada akhirnya peningkatan daya saing industri dapat menunjang pertumbuhan ekonomi nasional.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut jelas menunjukkan bahwa industri nasional kita masih sangat tergantung pada impor sebagai input industrinya. Padahal ekspor utama kita adalah bahan mentah atau bahan baku sebagai komoditas untuk input industri di luar negeri. Dari aspek kemandirianpun. industri nasional kita masih lemah. Artinya upaya peningkatan daya saing dan kemandirian industri dalam negeri menjadi pekerjaan rumah yang cukup besar. Masih tingginya ketergantungan terhadap teknologi dari luar negeri menggambarkan bahwa industri di dalam negeri minim dalam inovasi. Minimnya inovasi di industri khususnya inovasi produk dan proses produksi akan berdampak pada kenyataan bahwa industri manufaktur di dalam negeri cenderung menjadi industri perakitan komponen atau bahkan cenderung menjadi industri manufaktur yang bersifat pedagang. Padahal dalam konteks daya tahan terhadap persaingan. peningkatan kualitas barang merupakan dampak tertinggi dari inovasi produk. Sedangkan peningkatan kapasitas produksi baik barang maupun jasa serta percepatan proses produksi adalah dampak terbesar dari inovasi proses.

Disarikan dari PPTI Ristekdikti

One thought on “Gambaran Umum Pengembangan Teknologi Industri di Indonesia

  • 9 Oktober 2019 pada 1:30 pm
    Permalink

    Very interesting information!Perfect just what I was looking for!

    Balas

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: