Transformasi Produk Riset Skala Laboratorium ke Skala Industri

Perguruan tinggi yang jumlahnya banyak di Indonesia telah melahirkan karya-karya riset yang beragam dan cukup menarik. Dari sekian banyak produk riset yang telah dihasilkan, hampir sebagian besar masih berada pada tataran skala lab, sedikit sekali yang masuk pada skala industri dan komersil. Ke depannya keberhasilan riset semestinya berdampak pada sektor ekonomi. Oleh karena itu penelitian yang ada diperguruan tinggi tersebut selayaknya didorong terus ke skala industri. Untuk sampai pada level tersebut diperlukan dana yang cukup untuk pelaksanaan riset dan pengujian-pengujiannya. Dalam pembangunan yang berkelanjutan akan sangat bermanfaat jika dana yang sudah dikeluarkan dan digunakan untuk riset pengembangan produk, kembali lagi ke pemberi dana dan dipergunakan untuk pengembangan produk selanjutnya. Hal ini dimungkinkan jika hasil dari pengembangan produk tersebut menjadi produk yang komersil. Untuk industri-industri swasta, keuntungan dari komersialisasi produk, sebagian akan dikembalikan lagi sebagai modal riset pengembangan produk. Jika pemberi dananya pemerintah maka produk komersil akan menghasilkan pajak atau dana yang kembali ke negara.

Status kolaborasi riset skala laboratorium

Untuk mendorong sampai skala industri, perlu mengetahui status tingkat kesiapan teknologi skala lab nya. Apa saja catatan historis riset yang telah dicapai atau dimiliki. Hal ini diperlukan untuk evaluasi dan persiapan langkah-langkah penyelesaiannya. Ini sangat penting karena menyangkut efisiensi anggaran dan strategi yang akan dilakukan. Untuk sampai pada skala industri, perlu sekali menambah mitra. Berdasarkan data pada skala laboratorium, mitra pelaksanaan riset pada umumnya bukan industri. Jika demikian, maka perlu dibentuk kolaborasi yang melibatkan industri juga, sebagai pendekatan diarahkan untuk membentuk model ABGS dengan rincian ; A (akademisi), B (business) dan G (government) serta S (society). Sosiety merupakan pengguna produk riset yang memberikan masukan spesifikasi yang dibutuhkan. Ada beberapa tipe kolaborasi yang sudah dilakukan dalam pengembangan produk skala laboratorium. Model (1) antara LPNK (A), Perguruan Tinggi (A) dan user (S); model (2) antara Fakultas 1 (A), Fakultas 2 (A), Fakultas 3 (A) ; model (3) antara Lembaga Penelitian (A), Mitra industri (B).

Pola kolaborasi tim peneliti

Membangun Produktivity

Membangun produktivity R&D yang terkait dengan industri secara system pada dasarnya adalah memperbaiki sisi input. Dapat berupa SDM, peralatan, fasilitas dan idea-idea agar setelah berproses dapat dihasilkan output yang baik. Secara nilai bahwa produktivitynya dikatakan baik jika nilai outputnya lebih besar dari nilai input. Hasil output tersebut akan diproses didalam industri yang secara system terpisah dengan divisi R&D nya. Bentuk model seperti diatas, jika diperhatikan sebetulnya mengingatkan kita dengan pola yang ada diperguruan tinggi. Sebuah pola yang menjadikan perguruan tinggi sebagai processing system R&D yang terpisah dengan industri. Dalam transformasi skala lab ke skala industri, beberapa hal akan terjadi penyesuaian. Seringkali prototipe skala lab tidak siap dan dipaksakan untuk masuk ke skala industri, sehingga terjadi proses perubahan design. Seharusnya sejak awal dalam proses di skala lab sudah bermitra dengan industri. Hal ini terkait penyesuaian dengan peralatan proses produksi yg ada di industri, perubahan juga mungkin akan terjadi karena tuntutan pasar.

Perjanjian kerjasama mendukung kolaborasi

Ada juga prototipe skala lab yang dihasilkan ternyata tidak menunjang kebutuhan industri. Akhirnya industri merasa keberatan, karena pihak industri terpaksa harus berinvestasi banyak untuk menambah peralatan produksi. Sementara produk tersebut belum tentu potensi pasarnya bagus. Selain itu ada kejadian bahwa kesepakatan peneliti dengan industri sering kali gagal, karena pihak penemu teknologi belum bisa bekerja sama dengan pihak industri, dan merasa peneliti bisa segalanya . Pembagian keuntungan merupakan salah satu pemicunya. Oleh karena itu pembentukan kolaborasi atau konsorsium, termasuk jika ada penambahan mitra baru, perlu juga dibuatkan perjanjian kerjasama. Semacam ikatan kontrak yang didalamnya berisi penjabaran fungsi-fungsi dan tanggung jawab masing-masing lembaga. Perjanjian tersebut dirumuskan dalam bentuk pasal pasal, agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan. Setelah itu pembentukan organisasi dilakukan dan ditentukan leadernya serta jadwal operasionalnya. Perlu juga tim peneliti disamakan persepsinya dan didorong terus agar bisa menjalankan kegiatan serta bagaimana meningkatkan produktivitas R&D nya

Keterkaitan R&D dgn Industry dan Produktivity

Penyesuaian dan persiapan menuju skala industri

Pada saat transformasi skala lab ke skala industri dilakukan, untuk kasus pangan dan kesehatan, diperlukan tahapan uji coba menstabilkan karakteristik produk. Sebagai contoh untuk produk pangan dan kesehatan pada skala lab. Secangkir teh dengan spesifikasi rasa tertentu, Jika masuk ke skala industri  dengan proses produksi 1000 cangkir teh, apakah rasanya tetap sama dengan secangkir teh tersebut. Ini merupakan permasalahan yang terlihat gampang, namun tantangannya cukup besar. Tahap berikutnya, secangkir teh yang sudah masuk skala industri tersebut diuji coba ke masyarakat. Hasil pengujiannya menjadi masukan untuk penyempurnaan produk berikutnya. Untuk teknologi obat dan kesehatan diperlukan uji pra klinis dan klinis. Akan terjadi banyak perubahan networking pada saat transformasi skala lab ke skala industri. Dalam bentuk model apapun, mitra industri perlu dipersiapkan dengan baik dan pilih mitra-mitra yang baik untuk menghindari permasalahan dalam menjalankan riset. Untuk bidang obat dan kesehatan dalam beberapa hal diperlukan ethical clearance.

Pilih mitra yang terbaik

Mitra industri harus memiliki CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) sebelum melakukan riset, untuk menghasilkan produk yang siap uji pra klinis (hewan) maupun uji klinis (manusia). Pemilihan mitra yang strategis (ABGS) perlu dipilih yang terbaik dan sudah  direncanakan sejak awal. Mitra industri  harus sanggup untuk memproduksi massal dan paham potensi pasar produknya serta mempunyai jaringan yang luas, sehingga tidak terjadi kemandekan dalam tahapan komersial. Waktu akan tambah panjang jika sampai salah pilih. Jangan sampai terpaksa harus mengulang dari awal. Perlu diingat bahwa riset dan pengembangan sebetulnya untuk memberi nilai tambah (harga yg lebih murah, delivery time yg cepat, peningkatan TKDN).  Untuk mitra  yang  berperan  sebagai  user, sebaiknya  dipilih dari  lembaga pemerintah  atau  pemda (sebagai  obyek  pasar). Hal ini  untuk  menjamin keberlanjutan pengembangan teknologi dan pemasaran berjalan baik. Pembagian pekerjaan perlu dilakukan yang merupakan salah satu indikator sukses. Selain itu perlu  diingat  bahwa  setiap  lembaga  tidak  akan  pernah  bisa  menyelesaikan  semua  pekerjaan  sendiri.

One thought on “Transformasi Produk Riset Skala Laboratorium ke Skala Industri

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: