Antara Aedes Aegypti, Wolbachia dan Telur-Telur

Pengembangan teknologi untuk pengendalian dengue merupakan salah satu prakarsa utama dalam Renstra Kementerian Ristek Dikti tahun 2015 – 2019. Sinergi dengan strategi global WHO untuk upaya pencegahan dan pengendalian dengue 2012 – 2020. Aedes Aegypti ber Wolbachia telah disebutkan sebagai metode inovatif dalam rangka pengendalian vector.

Wolbachia merupakan bakteri yang bersifat simbiotik obligat pada serangga, tidak berbahaya dan bukan merupakan sumber penyakit bagi mahkluk hidup lain, termasuk mamalia dan manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wolbachia terdapat pada hingga 70% spesies serangga yang hidup disekitar manusia. Termasuk ngengat, lalat buah, kupu-kupu, capung dan kumbang, namun tidak terdapat pada nyamuk Aedes Aegypti

Setelah penelitian bertahun-tahun, peneliti berhasil memasukkan bakteri Wolbachia ke dalam nyamuk Aedes Aegypti pada tahun 2008. Bakteri alami tersebut terbukti menghambat perkembangbiakan virus dengue pada nyamuk di dalam penelitian laboratorium. Wolbachia terbukti aman bagi manusia dan ekologi. Hal ini dinyatakan dalam hasil analisis risiko oleh Australian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisasition (CSIRO) pada tahun 2011. Selain itu Wolbachia dalam Aedes Aegypti juga telah dinyatakan sebagai produk non rekayasa genetic/Non Genetic Modified Organism oleh Office of the Gene Technology Regulator Australia pada tahun 2009.

Fase Penelitian

Penelitian di Indonesia dimulai tahun 2011 dengan strategi berjangka panjang yang terdiri dari empat fase dengan daerah Yogyakarta dipilih karena tingginya angka penderita DBD (Demam Berdarah Dengue) yang menempatkan propinsi ini dalam lima besar wilayah Indonesia yang berdampak.

  • Pada phase 1, (tahun 2011 – tahun 2013) dilakukan uji keamanan dan kelayakan teknologi Wolbachia yang menyatakan bahwa Wolbachia ditemukan pada serangga liar di Yogyakarta dan yang terdapat pada Aedes Aegypti yang dikembangkan oleh EDP Yogyakarta mempunyai gen yang sama. Terbukti bahwa Wolbachia menghambat perkembangbiakan virus dengue dalam nyamuk Aedes Aegypti.
  • Pada phase 2, (tahun 2013 – tahun 2015) dilakukan pelepasan skala terbatas untuk membuktikan bahwa Aedes Agypti ber Wolbachia dapat bertahan dihabitat alami dan mempunyai kemampuan menekan replikasi virus dengue.
  • Pada phase 3, (tahun 2016 – 2019) dilakukan pelepasan dalam skala luas untuk membuktikan bahwa Aedes Aegypti ber Wolbachia efektif dapat menurunkan transmisi infeksi dengue. Tim ahli independen juga mengatakan bahwa kemungkinan dampak buruk yang diakibatkan pelepasan nyamuk tersebut dalam periode 30 tahun kedepan dapat diabaikan. Saat ini di Yogyakarta sebagian besar nyamuk Aedes Aegypti sudah berwolbachia.
  • Pada phase 4, menyusun rekomendasi kebijakan untuk bisa diadopsi diseluruh Indonesia

Yang menarik dari pengembangan teknologi ini adalah penyebaran nyamuknya dalam skala luas. Ternyata tim peneliti EDP Yogyakarta menggunakan telur-telur nyamuk Aedes Aegipty yang diletakkan dalam ember kecil. Ember tersebut beserta isinya  bisa ditempatkan di mana-mana yang pada saatnya telur tersebut akan berubah menjadi nyamuk Aedes Aegypti. Untuk kedepannya mungkin nanti jika diperlukan ada beberapa tempat yang memerlukan jasa dari aedes aegypti berwolbachia, tinggal dikirim ember-ember berisi telur aedes aegypti berwolbachia.

(Disarikan dari EDP Yogyakarta)

One thought on “Antara Aedes Aegypti, Wolbachia dan Telur-Telur

  • 12 Oktober 2019 pada 10:42 am
    Permalink

    excellent post.Ne’er knew this, thanks for letting me know.

    Balas

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: